Sabtu, 27 November 2010

Peran Bank Darah Rumah Sakit dalam Bencana

Bencana seperti letusan gunung ataupun trauma pada area skala besar (gempa bumi), dapat mengakibatkan terjadinya kekurangan jumlah persediaan darah transfuse di suatu rumah sakit/ daerah. Disinilah peran dari Bank Darah Rumah Sakit dibutuhkan.

Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) berbeda dengan Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS). Unit Transfusi Darah Rumah Sakit adalah salah stau instalasi di Rumah Sakit yang mempunyai peran sebagai penyedia darah transfuse yang aman (lulus uji screening Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah/ IMLTD) dengan tugas antara lain melakukan rekrutimen donor sukarela, melakukan seleksi donor, melakukan penyadapan darah donor, melakukan uji screening terhadap penyakit, melakukan penyumpanan darah sebagai persediaan, melakukan pemeriksaan golongan darah, uji silang serasi (crossmatch), mengirim darah trasnfusi yang telah aman ke bagian lain/ ruangan lain yang membutuhkan, memantau reaksi transfuse yang terjadi serta melakukan pencatatan dan pelaporan. Sedangkan Bank Darah RUmah Sakit merupakan bagian atau unit kerja di rumah sakit yang melaksanakan manajemen pelayanan transfuse darah di rumah sakit. Fungsi BDRS adalah sebagai pelaksana dan penanggung jawab atas pemenuhan kebuthan serta bekerjasama dengan Unit Transfusi Darah setempat sebagai pemasok darah yang aman.

Agar UTDRS aupun BDRS dapat berjalan serta berfungsi secara optimal, maka perlu didukung dengan peralatan yang berkualitas dan memenuhi standar. Departemen Kesehatan telah memberikan pesrsyaratan umum , persyaratan teknis (termasuk didalamnya perlengkapan dan peralatan), serta acuan yang dapat digunakan dalam membangun sebuah UTDRS dan BDRS di suatu daerah.

Kondisi kekurangan persediaan darah (blood shortage) dapat terjadi pada beberapa kondisi. Salah satunya adalah ketika terjadi peningkatan yang signifikan seperti pada bencana (letusan gunung, gempa bumi, dll). Kondisi blood shortage dapat dibagi dalam 3 tingkatan, yakni Short term regional shortage, shorterm national shortage serta prolonged and severe shortage. Pada short term regional shortage, keadaan kekurangan darah terjadi karena terjadi kekurangan pada satu center darah regional, biasanya karena bencana. pada short term nattionalshortage, terdapat lebih dari satu center darah regional yang kekurangan stok darah. Kondisi ini biasanya terjadi karena kegagalan system teknologi informasi, kegagalan rantai transportasi, dsb. Sedangkan prolonged and severe shortage terjadi ketika ada perubahan jumlah pendonor dalam jumlah besar.

Ketika terjadi kondisi yang tidak dihrapkan tersebut, BDRS dapat melakukan beberapa tindakan untuk mengatasi kondisi tersebut. Diantaranya adalah retriksi penggunaan stok darah. Retriksi ini dapat berupa pengetatan penggunaan jumah kantong darah yang dipakai. Selain itu juga dapat dilaukan triage untuk pembedahan. Pembedahan mana yang dapat ditunda, dan mana yang harus ditangani lebih dulu. Hal tersebut dapat dilakuakan untuk menghemat pemakaian darah.

Pada kondisi bencana, BRDS dapat melakukan retriksi pemakaian stok darah agar tidak terjadi kondisi kekurangan darah. Biasanya kondisi Blood Shortage terjadi setelah 2 sampai 3 hari setelah bencana. hal ini dikarenakan pemakaian darah pada saat operasi penanganan korban tersebut.

Agar tidak terjadi blood shortage pada kondisi bencana, biasanya Bank Darah Rumah Sakit telah mempersiapkan rencana/ plan untuk mencegah kondisi yang lebih buruk. Plan yangdimiliki Bank Darah Rumah Sakit meliputi jenis cairan/ jenis darah yang akan dipersiapkan (PRC, plasma, albumin, dsb), dari mana darah akan didapat, standar tes screening yang akan dilakukan dengan cepat dan bagaimana menyimpan, transportasi darah dari pusat/ unit transfusi ke tumah sakit. Dengan adanya persiapan yang baik, diharapkan tidak terjadi kekurangan darah pada saat kondisi bencana.

Bank Darah Rumah Sakit memang memiliki peran yang cukup penting dalam kondisi bencana. regulasi rumah sakit, pemerintah, ketersediaan donor dan partisipasi masyarakat yang koherens tentunya akan sangat membantu pihak penyedia layanan kesehatan dalam menangani kebutuhan stok darah, baik dalam kondisi normal ataupun pada saat terjadi bencana.

Sumber

  1. Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan Tahun 2010, Depkes RI [link]
  2. Lecture Notes : Disaster Blood Banking

Entomologi Forensik: Sebuah Ikhtisar

Pada beberapa bagian blog ini kita telah membahas tentang serangga yang menjadi penyebab masalah dalam kesehatan, seperti penyebaran suatu penyakit. Pada posting kali ini, kita akan melihat betapa serangga memiliki manfaat yang begitu besar pada dunia kedokteran.

Membaca buku novel misteri mungkin membuat kita menyimpan pertanyaan dalam diri kita, bagaimana seorang detektif mengungkap suatu kematian: mengungkap identitas mayat, sudah sejak kapan mayat tersebut meninggal, dengan cara apa mayat tersebut meninggal, dsb. Ilmu kedokteran forensik memberikan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Memperkiraan waktu kematian dalam suatu kasus forensik merupakan poin yang krusial. Sehingga pada praktiknya perkiraan waktu kematian akan selalu dicantumkan dalam sebuah kesimpulan autopsi forensik. Selain itu, perkiraan saat kematian juga akan membantu pihak kepolisian dalam melajkukan konfirmasi alibi seseorang. Hal ini akan mempersempit daftar tersangka di tangan kepolisian. Tersusunnya daftar tersangka yang tajam dan tepat akan menghemat waktu, tenaga dan dana dalam suatu penyidikan.

Dalam ilmu kedokteran, tidak cukup dengan metode saja untuk memperkiraan saat kemati. Menggabungkan 2 atau lebih metode akan memberikan hasil perkiraan yang lebih akurat dengan rentang bias yang lebih kecil. Beberapa metode yang lazim digunakan dalam membuat perkiraan saat kematian adalah pengukuran penurunan suhu tubuh, interpretasi lebam dan kaku mayat, interpretasi proses dekomposisi, pengukuran perubahan kimia pada vitreous, interpretasi isi dan pengosongan lambung serta interpretasi aktifitas serangga (entomologi forensik).

Entomologi forensik mengevaluasi aktifitas serangga dengan berbagai teknik untuk membantu memperkirakan saat kematian dan menentukan apakah jaringan tubuh atau mayat telah dipindah dari suatu lokasi ke lokasi lain. Pada prakteknya, entomologi tidak hanya bergelut dengan biologi dan histologi artropoda, namun saat ini entomologi dalam metode – metodenya juga menggeluti ilmu lain seperti kimia dan genetika. Dengan penggunaan pemeriksaan DNA dalam entomologi forensik, saat ini juga sedang diteliti kemungkinan mengidentifikasi DNA jaringan tubuh yang berkontak atau dimakan oleh serangga. Dengan semakin banyak dan semakin kecilnya marker DNA yang dapat digunakan untuk identifikasi manusia, maka kemungkinan deteksi akan semakin besar. Hal ini akan memungkinkan untuk mengidentifikasi jaringan tubuh atau mayat seseorang melalui serangga yang ditemukan pada tempat kejadian perkara.

Sebenarnya teknik pemanfaatan serangga sudah ada sejak berates-ratus tahun yang lalu. Sejak abad ke 12,, bangsa Cina telah memulai mengembangkan teknik pemeriksaan mayat menggunakan serangga (blow fly, dari famili Calliphoridae, dari ordo Diptera). Pada perkembangannya, kelompok-kelompok serangga nekrofagus yang berasal dari ordo Diptera, Coleoptera, Hymenoptera (terutama semut), dan beberapa Lepidoptera banyak digunakan untuk mengidentifikasi umur mayat. Kelompok serangga tersebut telah diklaim dapat membantu menentukan kapan waktu kematian, bahkan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan teknik lain.

Penelitian yang dilakukan oleh Jiron dan Cartin di tahun 1981 pada bangkai anjing menjelaskan bahwa kelompok-kelompok serangga tertentu akan muncul pada tahap-tahap pembusukan bangkai. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Discoloration Stage

Tahapan pertama ini berlangsung selama kurang lebih 3-4 hari. Pada tahap ini akan muncul serangga dari spesies semut (Camponotus sp.), lalat muscoid, lalat sarcophagid, lalat drosophilid, dan banyak lalat calliphorid (Phaenicia eximia).


Emphysematic Stage

Tahap berikutnya adalah emphysematic stage yang berlangsung mulai hari keempat hingga ke-8. Pada tahap ini muncul serangga P. eximia dalam jumlah besar, kumbang histerid, Euspilotus aenicollis, beberapa kumbang scarabid, dan beberapa lalat muscoid.


Liquefaction Stage

Pada tahap liquefaction yang berlangsung pada hari ke-8 sampai ke-28, serangga yang datang paling melimpah adalah dua spesies lalat calliphorid, yaitu P. eximia dan Hemilucilia segmentaria, lalat piophilid, kumbang staphylinid, histerid, Dermaptera, tawon ichneumonid, lipas, lebah (genus Trigona) dan dua famili ngengat (pyralid dan noctuid).


Mummified Stage

Pada tahapan terakhir ini, serangga yang munculdi dominasi oleh kumbang dermestid.

Dengan mengirimkan spesimen serangga, baik dalam bentuk dewasa, telur maupun larva, kita akan dapat terbantu untuk mengetahui waktu kematian korban. Meskipun demikian, teknik ini juga mempunyai kelemahan yang cukup mendasar, yaitu sangat tergantung dari keadaan cuaca, misalnya suhu, kelembaban, dan curah hujan, atau oleh perlakuan manusia, yang secara langsung akan menentukan proses dekomposisi yang menjadi dasar kemunculan serangga-serangga tersebut.

Sekali lagi dapat kita lihat bahwa kolaborasi antar disiplin ilmu dalam dunia kedokteran merupakan poin penting dalam menyelesaikan suatu kasus atau masalah. Sebagai contoh departement parasitologi mendapatkan kiriman specimen dari bagian forensik untuk membantu dalam pengungkapan suatu kasus kriminal/ pembunuhan.

Entomologi medik termasuk di dalamnya entomologi forensik terus berkembang pesat, dan jasa entomolog medik amat dibutuhkan. Keahlian tenaga entomolog dibutuhkan dalam penyidikan, di pengadilan maupun dalam pengawasan bidang kedokteran untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Walau di Indonesia bidang ini belum sepopuler ilmu medik yang lain, namun dengan era informasi dan globalisasi saat ini,disiplin ilmu entomologi diharapkan akan sepopuler disiplin entomologi di bagian lain.

Kamis, 25 November 2010

Sebuah Refleksi dari Haiti

Pada tanggal 20 november 2010 Menteri Kesehatan Publik dan Populasi (Ministry of Public Health and Population/ MPHP) Haiti mengumumkan bahwa telah terjadi 60240 kasus kolera dan 1415 kematian akibat kolera di Haiti. Case Fatality Rate di rumah sakit pada level nasional mencapai 2.3% dimana sebanyak 66% kematian terjadi di tempat pelayanan kesehatan dan 33% terjadi kematian di komunitas.

Kasus kolera juga memburuk di ibukota Haiti, yakni Port-Au-Prince dan kota metropolitan lainya (Carrefour, Cite Soleil, Delmas, Kenscoff, Petion Ville, Tabarre and Croix des Bouquets). Pada area-area tersebut sedikitnya terjadi 5578 kasus dengan 95 kematian terlaporkan.

Pada tanggal 19 November 2010 Menteri Kesehatan Republik Dominika melaporkan bahwa dua kasus telah dites positif terkena kolera. Satu orang di rawat di rumah sakit dan satu orang lainya di rawat di kediamanya didaerah Santu Domino. Republic Dominika adalah negara tetangga Haiti yang berada di pulau yang sama dengan Haiti.

Kolera merupakan infeksi akut diare yang disebabkan oleh ingesti makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri Vibrio Cholera. Tiap tahunnya diestimasikan 3 hngga 5 juta kasus kolera dilaporkan dan 100.000 – 120.000 kematian terjadi karena kolera. Periode inkubasi yang pendek (2 hingga 5 jam) membuat penyakit ini sangat potensial menjadi outbreak dengan pola yang eksplosif seperti yang terjadi di Haiti.

Kasus yang terjadi di Haiti ini sangat memprihatinkan. Penyebaranya yang begitu luas dan cepat akan memberi dampak yang negative di banyak aspek kehidupan masyarakat di Haiti. Pola dan gaya hidup kebanyakan warga Haiti memang menjadi salah satu penyebab cepatnya kolera menyebar. Faktor lain yang menjadi penyebab epidemi menyebar terlalu jauh adalah air kotor, sanitasi buruk, tidak ada toilet, kekurangan gizi dan miskin akses ke pusat kesehatan

Tidak hanya kerugian di bidang kesehatan. Outbreak kolera di Haiti ini juga akan berdampak pada kehidupan sosial. Dimali dengan rasa panic dan takut, masyarakat Haiti mulai menuduh pasukan perdamaian PBB dari Nepal sebagai pembawa agen penyebab kolera dan akhirnya berakhir dengan kericuhan di masyarakat. Sebenarnya lebih dari 80% kasus kolera dapat disembuhkan dengan garam rehidrasi oral. Kontrol yang efektif dapat dilakukan dengan prevnsi, preparedness dan response. Penyediaan air yang aman dan sanitasi yang bagus menjadi hal yang krusial dalam mereduksi dampak kolera dan penyakit yang disebarkan lewat air (waterborne disease). Walaupun terdapat vaksin kolera oral yang dapat digunakan untuk membantu pengkontrolan penyakit tersebut, metode control konvensional tidak bosa diganian dan masih menjadi metode utama yang digunakan untuk menangani kasus tersebut.

WHO telah menetapkan “WHO Global Task Force on Cholera Control”, dimana WHO bekerja untuk :

  1. Menyediakan saran dan dukungan teknis untuk program kontrol kolera dan prevensi pada tingkat negara
  2. Melatih tenaga kerja professional pada tingkat nasional, regional dan juga internasional dalam pencegahan dan kesiapsiagaan (preparedness) dan respon terhadap wabah penyakit diare
  3. Menyebarkan informasi dan petunjuk kerja (guidelinesP pada kolera dan penyakit enteric yang mudah menjadi epidemic lainya ke tenaga kesehatan dan masyarakat luas.

Saat ini WHO dan juga WHO regional untuk wilayah Amerika (Pan American Health Organization/PAHO) masih bergerak untuk menangani kasus di Haiti yang kian mencemaskan tersebut. PAHO masih melanjutkan untuk mendatangkan ahli-ahli internasional terakit dengan kasus kolera ke Haiti dan juga Republik Dominique, termasuk ahli dalam bidang epidemiologi, risk communication, case management, laboratorium, air, sanitasi, logistic, LSS/SUMA (humanitarian supply management system). Dari sini dapat kita lihat bahwa dalam mencegah penyebaran kasus kolera ke area yang lebih luas, dibutuhkan ahli dari berbagai bidang ilmu. Pembuatan solusi secara interdisipliner tentunya akan

Gudang PROMESS (Program on Essential Medicine and Supplies) dari PAHO saat ini juga telah mempunyai stok logisticktambahan untuk obat-obatan dan antibiotika. PAHO juga telah bersiap menyediakan stok cairan intravena dan suplai medis lainya untuk Haiti. Dalam manajemen kasus outbreak, seperti halnya pada kasus bencana alam, logistic juga punya peran sangat penting. Tidak boleh sembarang barang/obat/peralatan dapat langsung disetor ke daerah bencana/wabah, namun harus diseleksi menurut kebutuhan daerah tersebut. Hal ini untuk mencegah terjadinya penumpukan barang yang akhirnya tidak dipakai secara sia-sia. Perhitungan jumlah kebutuhan lohgistik juga tidak boleh sembarangan harus mempertimbangkan working stock, stock out, lead time, buffer stock dan stock in hand untuk menentukan jumlah stok logistic yang optimal.

PAHO juga mendukung kluster air dan sanitasi yang telah diberikan serbuk chlorine di Haiti untuk purifikasi air dan sanitasi di Haiti. Air juga telah dilakukan tes sebelum disebarkan ke kamp pengungsian. PAHO juga berusaha untuk memastikan bahwa air di rumah sakit di Haiti tidak terkontaminasi.

Untuk mencegah timbul area baru yang terinfeksi kolera, beberapa organisasi saling berkolaborasi dalam pencegahan penyabaran kolera. Caribbean Epidemiology Center (CAREC) yang berlokasi di Trinidad saat ini membantu Menteri Kesehatan di kepulauan Karibia untuk memobiliasasi dan mempersiapkan jika terjadi kasus-kasus baru di pulau lainya. PAHO juga berkoordinasi dengan agen WHO lainya, dan juga kantor-kantor kesehatan di USA dan Kanada untuk mencegah pertumbuhan jumlah kasus kolera. Hal ini menunjukan bahwa kolaborasi dan kerjasama yang sinergis antar sektor dan daerah juga diperlukan dalam penanganan kasus wabah.

Sumber

  1. WHO : Cholera in Haiti – Update 4 [link]
  2. WHO: Cholera in Haiti [link]
  3. WHO: Cholera Fact Sheets [link]
  4. Center for Disease Control and Prevention: Outbreak Notice Cholera in Haiti [link]

Rabu, 24 November 2010

Mengatasi Problem Psikososial Korban Bencana

Beberapa tahun terakhir ini Indonesia terus saja diguncang oleh berbagai bencana yang memakan kerugian materil maupun non materil. Tidak hanya bencana alam (natural disaster) seperti tsunami di aceh, gempa bumi di Jogjakarta, banjir di wasior , namun juga bencana yang diakibatkan oleh teknologi ataupun karena teknologi/ manusia seperti kecelakaan pesawat terbang. Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur yang ada di daerah bencana, namun bencana tersebut juga mempunyai dampak yang cukup besar pada psikososial masyarakat setempat.

Stressor yang besar/ ekstrim seperti bencana merupakan salah satu faktor resiko munculnya gangguan mental dan masalah psikososial lain di masyarakat. bencana yang berdampak pada sejumlah besar populasi akan mengakibatkan trauma pada seorang individu, yang secara tidak langsung akan menyebabkan trauma pada suatu komunitas. Keadaan ini akan berlanjut dengan penurunan produktivitas komunitas tersebut sehingga akan menambha beban hidup baik bagi orang tersebut, keluarga, maupun komunitas tersebut. Stressor yang besar pada bencana juga akan meningkatkan resiko terjadinya gangguan mental seperti Post traumatic stress disorder (PTSD), ataupun meningkatkan resiko terjadinya bunuh diri (suicide).

Secara garis besar gangguan mental setelah bencana (post-disaster) terjadi dalam 3 fase. Fase pertama adalah fase kritis (critical phase). Fase ini terjadi kurang dari 1 bulan setelah terjadi bencana. Fase selanjutnya adalah fase setelah kritis (after critical phase) yang terjadi 1 bulan setelah kejadian bencana. Pada fase ini yang perlu diperhatikan adalah adanya post-traumatic stress disorder. Resiko untuk terjadi gangguan PTSD akan meningkat pada individu yang mempunyai Icoping styleI yang cenderung pasif defensive (mengurung diri, dissosiatif), daripada individu yang mempunyai coping style yang aktif defensive (respon flight or fight). fase terakhir adalah pronlonxged stressor yang dapat terjadi lebih dari 2 tahun.

Dalam menangani suatu bencana, hendaknya kita memperhatikan penanganan masalah kesehatan mental disamping masalah infrastruktur dan kesehatan fisik. Pada saat penanganan awal atau respon emergensi, dibutuhkan support baik secara fisik maupun psikologis kepada korban bencana. Informasi yang pasti (misalnya mengenai daerah bahaya/zona aman), mengenai keberadaan keluarga dan komunitasnya akan sangat menenangkan para korban bencana. Pembangunan hunian sementara serta fasilitas umum sementara (toilet umum, temat ibadah), ketersediaan logistic (makanan, obat-batan) juga akan mempengaruhi kondisi psikologis para pengungsi.

Pada tahap emergensi setelah bencana, kita dapat melakukan melakukan langkah/ intervensi psikologis. Sebagai tenaga medis, kita dapat memanajemen simtom – simtom psikiatri akut yang mncul pada korban bencana seperti depresi, agitasi, dsb. Pastikan juga ketersediaan logistic obat-obatan psikofarmaka. Untuk korban yang sebelumnya telah mengalami gangguan mental kronik, pengobatanya dapat diteruskan sehingga tidak memburuk dengan kejadian bencana tersebut. Untuk korban yang menunjukan gejala awal problem psikologis, hendaknya jangan diberikan obat-obat psikofarmaka terlebih dahulu. Pendekatan secara personal, empati, menilai kebutuhanya, serta mencegah terjadinya secondary stressor merupakan langkah awal yang dapat dilakukan kepada korban.

Hal-hal diatas dapat dilanjutkan hingga fase selanjutnya yakni fase rekonsolidasi. Pada fase ini diharapkan korban bencana sudah stabil dan memiliki positive coping dalam menghadap stressor yang ada. Beberapa intervensi psikologis yang dapat dilakukan ada fase rekonsolidasiadalah dengan melatih sumber daya yang ada untuk mensuport kondisi psikologis para korban bencana. Volunteers atau para relawan dapat dilatih dengan main psychological services sehingga dapat memberikan psikoterapi yang cukup efektif kepada korban di lokasi pengungsian. Pada fase ini kita juga dapat membina ketua komunitas (community leader) dengan cara-cara mendeteksi simtom masalah psikologis para korban bencana, serta bagaimana cara merujuknya dan juga mungkin suatu skills konsultasi dasar. Tentu saja pada tahap ini tak lepas dari peran puskesmas atau tenaga meds untuk melakukan suatu pelayanan kesehatan mental dasar.

Bencana baik natural disaster maupun man made disaster, dapat menimbulkan kerugian baik psikis maupun non psikis. Stressor yang ekstrim dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan mental pada sebuah komunitas ataupun individu. Intervensi psikologis yang dilakukan dapat seharusnya dilakukan secara terintegrasi dengan program dan disiplin untuk mencaegah secondary victim karena masalah kesehatan mental tersebut.

Senin, 15 November 2010

Feminisasi Epidemi HIV di Indonesia

Sekali sempat kau mengeluh kuatkah bertahan?
Satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh
Kudatang sahabat bagi jiwa, saat batin merintih...
Usah Kau lara sendiri,
Masih ada asa tersisa

Ya, masih ada tersisa! Petikan kata-kata tersebut adalah potongan lagu Usah Kau Lara Sendiri yang dipopulerkan Katon Bagaskara. Lagu ini berasal dari lagu asli Kisseki No Meshi, ciptaan Keisuke Kuwata, yang liriknya diadaptasi oleh Katon Bagaskara. Selanjutnya lagu ini sebagai partisipasi dalam proyek “Act Aganist AIDS ASIA 1995” arahan AMUSE Inc. Japan. Lagu tersebut mengingatkan dan mengetuk kita untuk percaya bahwa masih ada asa tersisa untuk para ODHA untuk melanjutkan hidup, dan masih ada harapan besar untuk kita untuk melakukan control terhadap penyebaran virus HIV di Indonesia.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, kasus HIV / AIDS di Indonesia kian mencemaskan karena terjadi peningkatan prevalensi yang tajam. Hingga bulan Juni 2010, kasus HIV/ AIDS di Indonesia yang dilaporkan oleh Ditejen PPM dan PL Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah mencapai 21770. Padahal 5 tahun sebelumnya(2005), jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan berjumlah 5321 kasus. Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa telah terjadi peningkatan kasus sebanyak 397% atau hampir empat kalinya. Kondisi ini tentunya sangat menyedihkan.

Berdasarkan sumber yang sama, transmisi paling tinggi berasal dari golongan Heteroseksual (49,25%), kemudian disusul Pengguna NAPZA suntik/Penasu (40,35%), Homoseksual/ Biseksual (3,2%), Intrauterine(2,69%) dan Transfusi Darah (0,09%). Tingginya angka transmisi pada golongan Heteroseksual dan Pengguna NAPZA ini menandakan masih perlunya koreksi pada perilaku kesehatan reproduksi di masyarakat kita (pemakaian kondom, faithful) , dan juga masalah penggunaan obat-obatan di Indonesia.

Data dalam lima tahun terakhir ini juga menunjukan adanya Feminisasi Epidemi HIV di Indonesia, dimana jumlah ODHA perempuan mulai beranjai naik, dan pada tahun 2010 telah mencapai lebih dari 20%. Pada tahun 2005, ODHA perempuan berjumlah 17,9%. Angka ini terus naik menjadi 18,65 % (tahun 2006), kemudian menjadi 19,88% (tahun 2007), kemudian menjadi 24,6% (tahun 2008), kemudian menjadi 25,8% (tahun 2009), dan menjadi 25,6% (tahun 2010). Angka ini diperkirakan akan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya. Kebanyakan dari ODHA perempuan berasal dari golongan Ibu rumah tangga dan Pekerja Seks. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Kecenderungan epidemi

Dalam beberapa kajian, para ahli epidemiologi di Indonesia memproyeksikan bila tidak ada peningkatan upaya penanggulangan yang bermakna, maka pada tahun 2010 jumlah kasus AIDS menjadi 400.000 orang dengan kematian 100.000 orang dan pada tahun 2015 menjadi 1.000.000 orang dengan kematian 350.000 orang. Meskipun pada kenyataanya jumlah kasus AIDS pada tahun 2010 masih jauh lebih kecil daripada perkiraan para ahli epidemiologi,, angka kasus HIV AIDS di Indonesia terus bertambah, sehingga masih perlu penggalakan upayakontrol HIV / AIDS di Indonesia agar tidak terjadi ledakan pada masa-masa mendatang.

Penularan dari sub-populasi berperilaku berisiko kepada isteri atau pasangannya akan terus berlanjut. Jumlah ini akan menambah angka kasus perempuan dengan HIV AIDS. Diperkirakan pada akhir tahun 2015 akan terjadi penularan. HIV secara kumulatif pada lebih dari 38,500 anak yang dilahirkan dari ibu yang sudah terinfeksi HIV. Kecenderungan infeksi HIV AIDS pada ibu rumah tangga terjadi di daerah kota/ kota besar. Sedangkan penyebaran lewat pekerja seks kebanyakan terjadi di daerah pedesaan.

Selain adanya penularan kepada isteri, peningkatan kasus juga terjadi karena kesulitan surveilans dan pendataan pada pasangan seksual dari kelompok kunci. Kelompok kunci disini yang dimaksud adalah kelompok yang memiliki resiko sangat tinggi. Pasangan dari kelompok kunci, misalnya pemakai jasa pekerja seks komersil ini sangat sulit untuk didata dan ditemukan. Dengan begitu, upaya untuk tindakan preventif maupun kuratif pada kelompok ini akan menghambat program kontrol yang dilakukan untuk menurunkan kejadian HIV / AIDS di Indonesia. Ditakutkan bahwa pasangan dari kelompok kunci ini akan menularkan ke banyak pihak,termasuk istri dan pasangan seksual lainya.

Peningkatan epidemi ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang memperburuk. Diantaranya adalah peningkatan jumlah Penasun di Indonesia, terjadinya resistensi terhadap obat ARV, kurangnya jumlah ARV di beberapa daerah, surveilans yang belum berjalan dengan baik, serta stigma masyarakat terhadap ODHA.

Tantangan

Masih banyak yang perlu dilakukan untuk melakukan kontrol pada penyebaran HIV / AIDS di Indonesia. Namun masih banyak pula tantangan yang harus dihadapi dalam pelaksanaan upaya tersebut. Setidaknya dalam beberapa tahun kedepan upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia masih akan menghadapi berbagai tantangan yang perlu ditindaklanjuti.

Tantangan pertama dimulai dari sikap dan perilaku masyarakat Indonesia sendiri. Kehidupan sosial masyarakat di Indonesia secara tidak langsung juga mempengaruhi meningkatnya jumlah kasus HIV / AIDS di Indonesia. Banyak kalangan masih menyebarkan pesan ketidaksetujuanya terhadap kampanye penggunaan kondom untuk hubungan seks yang aman. Komunikasi yang kurang bagus di antara pasangan dalam kebutuhan dan kecemasan seksual mereka - ditambah lagi dengan rasa ketergantungan perempuan terhadap laki-laki baik secara emosi maupun sosial-ekonomi, membuat perempuan kurang mempunyai kuasa untuk meminta hubunan seks yang aman. Faktor-faktor tersebut juga diperburuk oleh tingginya aksi kekerasan seksual di sebagian komunitas, dan juga fakta bahwa aktivitas seksual di antara anak muda seringkali dimulai jauh pada usia yang lebih muda daripada yang diperkirakan oleh orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya.

Karena secara sosial masih tabu untuk dibicarakan, hal tersebut menyebabkan sulitnya mengajarkan atau mendiskusikan seks dengan kaum remaja serta menghalangi dimasukannya pendidikan seks ke dalam kurikulum sekolah. Pandangan negatif pada hubungan seks sesama jenis mengakibatkan baik individu maupun kelompok sosial sama-sama enggan mengakui adanya resiko yang nyata; banyak LSL (Lelaki Suka Lelaki)/ Homoseksual juga melakukan hubungan seks dengan perempuan, sehingga meningkatkan resiko penularan dari kelompk ini kepada perempuan dan anak-anak. Meskipun kondom kini lebih mudah diperoleh, angka penggunaanya masih rendah karena terbatasnya penerimaan masyarakat . Konsumsi alkohol yang luas dan berlebihan serta zat-zat lainnya, terutama di kalangan anak muda, seringkali berperan sebagai faktor yang melepas kendali diri dan menjadi penyalur kekerasan seksual serta perilaku resiko tinggi lainnya. Agar dapat berhasil, kampanye pencegahan harus mengakui dan menghadapi faktor-faktor tersebut secara realistis.

Perempuan sangat rentan terinfeksi pada usia muda. Sama seperti yang telah dituliskan diatas, fenomena ini merupakan refleksi dari kondisi sosial yang terjadi di beberapa komunitas. Banyak kalangan perempuan muda yang harus menanggung tekanan dari teman sebaya/ sepermainan pada anak perempuan untuk melakukan hubungan seksual dini dan masalah tersembunyi dari hubungan seksual seperti paksaan, pemerkosaan, inses, dan kekerasan rumah tangga.

Perempuan juga seringkali menghadapi kekerasan dan eksploitasi seksual yang sering dengan kemiskinan dan keluarga yang disfungsional. Anak-anak yang mengalami kekerasan seksual di masa muda, umumnya kehilangan harga diri dan perasaan kendali atas kehidupan mereka sendiri. Kondisi inilah yang kemudian meningkatkan resiko penyalahgunaan NAPZA dan memasuki kehidupan seks lebih dini dan akhirnya terpapar pada HIV. Secara umum, kekerasan kepada perempuan pada umumnya dan anak perempuan pada khususnya terus meningkat. Meskipun sangat memprihatikan, isi-isu ini membutuhkan para pembuat keputusan untuk menghadapi kenyataan yang dialami mereka dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi mereka.

Melihat kondisi yang telah dijabarkan rasanya masih banyak yang harus perlu dilakukan. Mengingat juga wilayah Indonesia yang sangat luas dan sumber daya yang masih sangat terbatas, strategi jitu terhdap pengobtrolan epidemiologi HIV AIDS baik pada perempuan maupun masyarakat pada umumnya masih perlu ditingkatkan dari masa ke masa. Dukungan dari masyarakat dan kelompok-kelompok sebaya juga sangat diperlukan untuk mengendalikan transmisi virus ini. Bagaimanapun kasus HIV AIDS di Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata. mari bahu membahu melawan virus HIV AIDS. Sekali lagi, jauhi virusnya, bukan musuhi orangnya!

Letakkanlah tanganmu diatas bahuku,
Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
Didepan sana cahya kecilpun memandu
Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya

Sumber
  1. Strategi Penanggulangan HIV dan AIDS 2007-2010 oleh Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia [link]
  2. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Desember 2007 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
  3. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Desember 2006 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
  4. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Desember 2005 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
  5. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Desember 2009 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
  6. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Maret 2010 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
  7. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Juni 2010 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
  8. Lecture Notes: HIV Control oleh dr. Satiti Retno P., Sp. KK (K)