Kamis, 25 November 2010

Sebuah Refleksi dari Haiti

Pada tanggal 20 november 2010 Menteri Kesehatan Publik dan Populasi (Ministry of Public Health and Population/ MPHP) Haiti mengumumkan bahwa telah terjadi 60240 kasus kolera dan 1415 kematian akibat kolera di Haiti. Case Fatality Rate di rumah sakit pada level nasional mencapai 2.3% dimana sebanyak 66% kematian terjadi di tempat pelayanan kesehatan dan 33% terjadi kematian di komunitas.

Kasus kolera juga memburuk di ibukota Haiti, yakni Port-Au-Prince dan kota metropolitan lainya (Carrefour, Cite Soleil, Delmas, Kenscoff, Petion Ville, Tabarre and Croix des Bouquets). Pada area-area tersebut sedikitnya terjadi 5578 kasus dengan 95 kematian terlaporkan.

Pada tanggal 19 November 2010 Menteri Kesehatan Republik Dominika melaporkan bahwa dua kasus telah dites positif terkena kolera. Satu orang di rawat di rumah sakit dan satu orang lainya di rawat di kediamanya didaerah Santu Domino. Republic Dominika adalah negara tetangga Haiti yang berada di pulau yang sama dengan Haiti.

Kolera merupakan infeksi akut diare yang disebabkan oleh ingesti makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri Vibrio Cholera. Tiap tahunnya diestimasikan 3 hngga 5 juta kasus kolera dilaporkan dan 100.000 – 120.000 kematian terjadi karena kolera. Periode inkubasi yang pendek (2 hingga 5 jam) membuat penyakit ini sangat potensial menjadi outbreak dengan pola yang eksplosif seperti yang terjadi di Haiti.

Kasus yang terjadi di Haiti ini sangat memprihatinkan. Penyebaranya yang begitu luas dan cepat akan memberi dampak yang negative di banyak aspek kehidupan masyarakat di Haiti. Pola dan gaya hidup kebanyakan warga Haiti memang menjadi salah satu penyebab cepatnya kolera menyebar. Faktor lain yang menjadi penyebab epidemi menyebar terlalu jauh adalah air kotor, sanitasi buruk, tidak ada toilet, kekurangan gizi dan miskin akses ke pusat kesehatan

Tidak hanya kerugian di bidang kesehatan. Outbreak kolera di Haiti ini juga akan berdampak pada kehidupan sosial. Dimali dengan rasa panic dan takut, masyarakat Haiti mulai menuduh pasukan perdamaian PBB dari Nepal sebagai pembawa agen penyebab kolera dan akhirnya berakhir dengan kericuhan di masyarakat. Sebenarnya lebih dari 80% kasus kolera dapat disembuhkan dengan garam rehidrasi oral. Kontrol yang efektif dapat dilakukan dengan prevnsi, preparedness dan response. Penyediaan air yang aman dan sanitasi yang bagus menjadi hal yang krusial dalam mereduksi dampak kolera dan penyakit yang disebarkan lewat air (waterborne disease). Walaupun terdapat vaksin kolera oral yang dapat digunakan untuk membantu pengkontrolan penyakit tersebut, metode control konvensional tidak bosa diganian dan masih menjadi metode utama yang digunakan untuk menangani kasus tersebut.

WHO telah menetapkan “WHO Global Task Force on Cholera Control”, dimana WHO bekerja untuk :

  1. Menyediakan saran dan dukungan teknis untuk program kontrol kolera dan prevensi pada tingkat negara
  2. Melatih tenaga kerja professional pada tingkat nasional, regional dan juga internasional dalam pencegahan dan kesiapsiagaan (preparedness) dan respon terhadap wabah penyakit diare
  3. Menyebarkan informasi dan petunjuk kerja (guidelinesP pada kolera dan penyakit enteric yang mudah menjadi epidemic lainya ke tenaga kesehatan dan masyarakat luas.

Saat ini WHO dan juga WHO regional untuk wilayah Amerika (Pan American Health Organization/PAHO) masih bergerak untuk menangani kasus di Haiti yang kian mencemaskan tersebut. PAHO masih melanjutkan untuk mendatangkan ahli-ahli internasional terakit dengan kasus kolera ke Haiti dan juga Republik Dominique, termasuk ahli dalam bidang epidemiologi, risk communication, case management, laboratorium, air, sanitasi, logistic, LSS/SUMA (humanitarian supply management system). Dari sini dapat kita lihat bahwa dalam mencegah penyebaran kasus kolera ke area yang lebih luas, dibutuhkan ahli dari berbagai bidang ilmu. Pembuatan solusi secara interdisipliner tentunya akan

Gudang PROMESS (Program on Essential Medicine and Supplies) dari PAHO saat ini juga telah mempunyai stok logisticktambahan untuk obat-obatan dan antibiotika. PAHO juga telah bersiap menyediakan stok cairan intravena dan suplai medis lainya untuk Haiti. Dalam manajemen kasus outbreak, seperti halnya pada kasus bencana alam, logistic juga punya peran sangat penting. Tidak boleh sembarang barang/obat/peralatan dapat langsung disetor ke daerah bencana/wabah, namun harus diseleksi menurut kebutuhan daerah tersebut. Hal ini untuk mencegah terjadinya penumpukan barang yang akhirnya tidak dipakai secara sia-sia. Perhitungan jumlah kebutuhan lohgistik juga tidak boleh sembarangan harus mempertimbangkan working stock, stock out, lead time, buffer stock dan stock in hand untuk menentukan jumlah stok logistic yang optimal.

PAHO juga mendukung kluster air dan sanitasi yang telah diberikan serbuk chlorine di Haiti untuk purifikasi air dan sanitasi di Haiti. Air juga telah dilakukan tes sebelum disebarkan ke kamp pengungsian. PAHO juga berusaha untuk memastikan bahwa air di rumah sakit di Haiti tidak terkontaminasi.

Untuk mencegah timbul area baru yang terinfeksi kolera, beberapa organisasi saling berkolaborasi dalam pencegahan penyabaran kolera. Caribbean Epidemiology Center (CAREC) yang berlokasi di Trinidad saat ini membantu Menteri Kesehatan di kepulauan Karibia untuk memobiliasasi dan mempersiapkan jika terjadi kasus-kasus baru di pulau lainya. PAHO juga berkoordinasi dengan agen WHO lainya, dan juga kantor-kantor kesehatan di USA dan Kanada untuk mencegah pertumbuhan jumlah kasus kolera. Hal ini menunjukan bahwa kolaborasi dan kerjasama yang sinergis antar sektor dan daerah juga diperlukan dalam penanganan kasus wabah.

Sumber

  1. WHO : Cholera in Haiti – Update 4 [link]
  2. WHO: Cholera in Haiti [link]
  3. WHO: Cholera Fact Sheets [link]
  4. Center for Disease Control and Prevention: Outbreak Notice Cholera in Haiti [link]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar