Pada beberapa bagian blog ini kita telah membahas tentang serangga yang menjadi penyebab masalah dalam kesehatan, seperti penyebaran suatu penyakit. Pada posting kali ini, kita akan melihat betapa serangga memiliki manfaat yang begitu besar pada dunia kedokteran.
Membaca buku novel misteri mungkin membuat kita menyimpan pertanyaan dalam diri kita, bagaimana seorang detektif mengungkap suatu kematian: mengungkap identitas mayat, sudah sejak kapan mayat tersebut meninggal, dengan cara apa mayat tersebut meninggal, dsb. Ilmu kedokteran forensik memberikan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Memperkiraan waktu kematian dalam suatu kasus forensik merupakan poin yang krusial. Sehingga pada praktiknya perkiraan waktu kematian akan selalu dicantumkan dalam sebuah kesimpulan autopsi forensik. Selain itu, perkiraan saat kematian juga akan membantu pihak kepolisian dalam melajkukan konfirmasi alibi seseorang. Hal ini akan mempersempit daftar tersangka di tangan kepolisian. Tersusunnya daftar tersangka yang tajam dan tepat akan menghemat waktu, tenaga dan dana dalam suatu penyidikan.
Dalam ilmu kedokteran, tidak cukup dengan metode saja untuk memperkiraan saat kemati. Menggabungkan 2 atau lebih metode akan memberikan hasil perkiraan yang lebih akurat dengan rentang bias yang lebih kecil. Beberapa metode yang lazim digunakan dalam membuat perkiraan saat kematian adalah pengukuran penurunan suhu tubuh, interpretasi lebam dan kaku mayat, interpretasi proses dekomposisi, pengukuran perubahan kimia pada vitreous, interpretasi isi dan pengosongan lambung serta interpretasi aktifitas serangga (entomologi forensik).
Entomologi forensik mengevaluasi aktifitas serangga dengan berbagai teknik untuk membantu memperkirakan saat kematian dan menentukan apakah jaringan tubuh atau mayat telah dipindah dari suatu lokasi ke lokasi lain. Pada prakteknya, entomologi tidak hanya bergelut dengan biologi dan histologi artropoda, namun saat ini entomologi dalam metode – metodenya juga menggeluti ilmu lain seperti kimia dan genetika. Dengan penggunaan pemeriksaan DNA dalam entomologi forensik, saat ini juga sedang diteliti kemungkinan mengidentifikasi DNA jaringan tubuh yang berkontak atau dimakan oleh serangga. Dengan semakin banyak dan semakin kecilnya marker DNA yang dapat digunakan untuk identifikasi manusia, maka kemungkinan deteksi akan semakin besar. Hal ini akan memungkinkan untuk mengidentifikasi jaringan tubuh atau mayat seseorang melalui serangga yang ditemukan pada tempat kejadian perkara.
Sebenarnya teknik pemanfaatan serangga sudah ada sejak berates-ratus tahun yang lalu. Sejak abad ke 12,, bangsa Cina telah memulai mengembangkan teknik pemeriksaan mayat menggunakan serangga (blow fly, dari famili Calliphoridae, dari ordo Diptera). Pada perkembangannya, kelompok-kelompok serangga nekrofagus yang berasal dari ordo Diptera, Coleoptera, Hymenoptera (terutama semut), dan beberapa Lepidoptera banyak digunakan untuk mengidentifikasi umur mayat. Kelompok serangga tersebut telah diklaim dapat membantu menentukan kapan waktu kematian, bahkan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan teknik lain.
Penelitian yang dilakukan oleh Jiron dan Cartin di tahun 1981 pada bangkai anjing menjelaskan bahwa kelompok-kelompok serangga tertentu akan muncul pada tahap-tahap pembusukan bangkai. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
Discoloration Stage
Tahapan pertama ini berlangsung selama kurang lebih 3-4 hari. Pada tahap ini akan muncul serangga dari spesies semut (Camponotus sp.), lalat muscoid, lalat sarcophagid, lalat drosophilid, dan banyak lalat calliphorid (Phaenicia eximia).
Emphysematic Stage
Tahap berikutnya adalah emphysematic stage yang berlangsung mulai hari keempat hingga ke-8. Pada tahap ini muncul serangga P. eximia dalam jumlah besar, kumbang histerid, Euspilotus aenicollis, beberapa kumbang scarabid, dan beberapa lalat muscoid.
Liquefaction Stage
Pada tahap liquefaction yang berlangsung pada hari ke-8 sampai ke-28, serangga yang datang paling melimpah adalah dua spesies lalat calliphorid, yaitu P. eximia dan Hemilucilia segmentaria, lalat piophilid, kumbang staphylinid, histerid, Dermaptera, tawon ichneumonid, lipas, lebah (genus Trigona) dan dua famili ngengat (pyralid dan noctuid).
Mummified Stage
Pada tahapan terakhir ini, serangga yang munculdi dominasi oleh kumbang dermestid.
Dengan mengirimkan spesimen serangga, baik dalam bentuk dewasa, telur maupun larva, kita akan dapat terbantu untuk mengetahui waktu kematian korban. Meskipun demikian, teknik ini juga mempunyai kelemahan yang cukup mendasar, yaitu sangat tergantung dari keadaan cuaca, misalnya suhu, kelembaban, dan curah hujan, atau oleh perlakuan manusia, yang secara langsung akan menentukan proses dekomposisi yang menjadi dasar kemunculan serangga-serangga tersebut.
Sekali lagi dapat kita lihat bahwa kolaborasi antar disiplin ilmu dalam dunia kedokteran merupakan poin penting dalam menyelesaikan suatu kasus atau masalah. Sebagai contoh departement parasitologi mendapatkan kiriman specimen dari bagian forensik untuk membantu dalam pengungkapan suatu kasus kriminal/ pembunuhan.
Entomologi medik termasuk di dalamnya entomologi forensik terus berkembang pesat, dan jasa entomolog medik amat dibutuhkan. Keahlian tenaga entomolog dibutuhkan dalam penyidikan, di pengadilan maupun dalam pengawasan bidang kedokteran untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Walau di Indonesia bidang ini belum sepopuler ilmu medik yang lain, namun dengan era informasi dan globalisasi saat ini,disiplin ilmu entomologi diharapkan akan sepopuler disiplin entomologi di bagian lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar