Sekali sempat kau mengeluh kuatkah bertahan?
Satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh
Kudatang sahabat bagi jiwa, saat batin merintih...
Usah Kau lara sendiri,
Masih ada asa tersisa
Ya, masih ada tersisa! Petikan kata-kata tersebut adalah potongan lagu Usah Kau Lara Sendiri yang dipopulerkan Katon Bagaskara. Lagu ini berasal dari lagu asli Kisseki No Meshi, ciptaan Keisuke Kuwata, yang liriknya diadaptasi oleh Katon Bagaskara. Selanjutnya lagu ini sebagai partisipasi dalam proyek “Act Aganist AIDS ASIA 1995” arahan AMUSE Inc. Japan. Lagu tersebut mengingatkan dan mengetuk kita untuk percaya bahwa masih ada asa tersisa untuk para ODHA untuk melanjutkan hidup, dan masih ada harapan besar untuk kita untuk melakukan control terhadap penyebaran virus HIV di Indonesia.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, kasus HIV / AIDS di Indonesia kian mencemaskan karena terjadi peningkatan prevalensi yang tajam. Hingga bulan Juni 2010, kasus HIV/ AIDS di Indonesia yang dilaporkan oleh Ditejen PPM dan PL Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah mencapai 21770. Padahal 5 tahun sebelumnya(2005), jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan berjumlah 5321 kasus. Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa telah terjadi peningkatan kasus sebanyak 397% atau hampir empat kalinya. Kondisi ini tentunya sangat menyedihkan.
Berdasarkan sumber yang sama, transmisi paling tinggi berasal dari golongan Heteroseksual (49,25%), kemudian disusul Pengguna NAPZA suntik/Penasu (40,35%), Homoseksual/ Biseksual (3,2%), Intrauterine(2,69%) dan Transfusi Darah (0,09%). Tingginya angka transmisi pada golongan Heteroseksual dan Pengguna NAPZA ini menandakan masih perlunya koreksi pada perilaku kesehatan reproduksi di masyarakat kita (pemakaian kondom, faithful) , dan juga masalah penggunaan obat-obatan di Indonesia.
Data dalam lima tahun terakhir ini juga menunjukan adanya Feminisasi Epidemi HIV di Indonesia, dimana jumlah ODHA perempuan mulai beranjai naik, dan pada tahun 2010 telah mencapai lebih dari 20%. Pada tahun 2005, ODHA perempuan berjumlah 17,9%. Angka ini terus naik menjadi 18,65 % (tahun 2006), kemudian menjadi 19,88% (tahun 2007), kemudian menjadi 24,6% (tahun 2008), kemudian menjadi 25,8% (tahun 2009), dan menjadi 25,6% (tahun 2010). Angka ini diperkirakan akan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya. Kebanyakan dari ODHA perempuan berasal dari golongan Ibu rumah tangga dan Pekerja Seks. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Kecenderungan epidemi
Dalam beberapa kajian, para ahli epidemiologi di Indonesia memproyeksikan bila tidak ada peningkatan upaya penanggulangan yang bermakna, maka pada tahun 2010 jumlah kasus AIDS menjadi 400.000 orang dengan kematian 100.000 orang dan pada tahun 2015 menjadi 1.000.000 orang dengan kematian 350.000 orang. Meskipun pada kenyataanya jumlah kasus AIDS pada tahun 2010 masih jauh lebih kecil daripada perkiraan para ahli epidemiologi,, angka kasus HIV AIDS di Indonesia terus bertambah, sehingga masih perlu penggalakan upayakontrol HIV / AIDS di Indonesia agar tidak terjadi ledakan pada masa-masa mendatang.
Penularan dari sub-populasi berperilaku berisiko kepada isteri atau pasangannya akan terus berlanjut. Jumlah ini akan menambah angka kasus perempuan dengan HIV AIDS. Diperkirakan pada akhir tahun 2015 akan terjadi penularan. HIV secara kumulatif pada lebih dari 38,500 anak yang dilahirkan dari ibu yang sudah terinfeksi HIV. Kecenderungan infeksi HIV AIDS pada ibu rumah tangga terjadi di daerah kota/ kota besar. Sedangkan penyebaran lewat pekerja seks kebanyakan terjadi di daerah pedesaan.
Selain adanya penularan kepada isteri, peningkatan kasus juga terjadi karena kesulitan surveilans dan pendataan pada pasangan seksual dari kelompok kunci. Kelompok kunci disini yang dimaksud adalah kelompok yang memiliki resiko sangat tinggi. Pasangan dari kelompok kunci, misalnya pemakai jasa pekerja seks komersil ini sangat sulit untuk didata dan ditemukan. Dengan begitu, upaya untuk tindakan preventif maupun kuratif pada kelompok ini akan menghambat program kontrol yang dilakukan untuk menurunkan kejadian HIV / AIDS di Indonesia. Ditakutkan bahwa pasangan dari kelompok kunci ini akan menularkan ke banyak pihak,termasuk istri dan pasangan seksual lainya.
Peningkatan epidemi ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang memperburuk. Diantaranya adalah peningkatan jumlah Penasun di Indonesia, terjadinya resistensi terhadap obat ARV, kurangnya jumlah ARV di beberapa daerah, surveilans yang belum berjalan dengan baik, serta stigma masyarakat terhadap ODHA.
Tantangan
Masih banyak yang perlu dilakukan untuk melakukan kontrol pada penyebaran HIV / AIDS di Indonesia. Namun masih banyak pula tantangan yang harus dihadapi dalam pelaksanaan upaya tersebut. Setidaknya dalam beberapa tahun kedepan upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia masih akan menghadapi berbagai tantangan yang perlu ditindaklanjuti.
Tantangan pertama dimulai dari sikap dan perilaku masyarakat Indonesia sendiri. Kehidupan sosial masyarakat di Indonesia secara tidak langsung juga mempengaruhi meningkatnya jumlah kasus HIV / AIDS di Indonesia. Banyak kalangan masih menyebarkan pesan ketidaksetujuanya terhadap kampanye penggunaan kondom untuk hubungan seks yang aman. Komunikasi yang kurang bagus di antara pasangan dalam kebutuhan dan kecemasan seksual mereka - ditambah lagi dengan rasa ketergantungan perempuan terhadap laki-laki baik secara emosi maupun sosial-ekonomi, membuat perempuan kurang mempunyai kuasa untuk meminta hubunan seks yang aman. Faktor-faktor tersebut juga diperburuk oleh tingginya aksi kekerasan seksual di sebagian komunitas, dan juga fakta bahwa aktivitas seksual di antara anak muda seringkali dimulai jauh pada usia yang lebih muda daripada yang diperkirakan oleh orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya.
Karena secara sosial masih tabu untuk dibicarakan, hal tersebut menyebabkan sulitnya mengajarkan atau mendiskusikan seks dengan kaum remaja serta menghalangi dimasukannya pendidikan seks ke dalam kurikulum sekolah. Pandangan negatif pada hubungan seks sesama jenis mengakibatkan baik individu maupun kelompok sosial sama-sama enggan mengakui adanya resiko yang nyata; banyak LSL (Lelaki Suka Lelaki)/ Homoseksual juga melakukan hubungan seks dengan perempuan, sehingga meningkatkan resiko penularan dari kelompk ini kepada perempuan dan anak-anak. Meskipun kondom kini lebih mudah diperoleh, angka penggunaanya masih rendah karena terbatasnya penerimaan masyarakat . Konsumsi alkohol yang luas dan berlebihan serta zat-zat lainnya, terutama di kalangan anak muda, seringkali berperan sebagai faktor yang melepas kendali diri dan menjadi penyalur kekerasan seksual serta perilaku resiko tinggi lainnya. Agar dapat berhasil, kampanye pencegahan harus mengakui dan menghadapi faktor-faktor tersebut secara realistis.
Perempuan sangat rentan terinfeksi pada usia muda. Sama seperti yang telah dituliskan diatas, fenomena ini merupakan refleksi dari kondisi sosial yang terjadi di beberapa komunitas. Banyak kalangan perempuan muda yang harus menanggung tekanan dari teman sebaya/ sepermainan pada anak perempuan untuk melakukan hubungan seksual dini dan masalah tersembunyi dari hubungan seksual seperti paksaan, pemerkosaan, inses, dan kekerasan rumah tangga.
Perempuan juga seringkali menghadapi kekerasan dan eksploitasi seksual yang sering dengan kemiskinan dan keluarga yang disfungsional. Anak-anak yang mengalami kekerasan seksual di masa muda, umumnya kehilangan harga diri dan perasaan kendali atas kehidupan mereka sendiri. Kondisi inilah yang kemudian meningkatkan resiko penyalahgunaan NAPZA dan memasuki kehidupan seks lebih dini dan akhirnya terpapar pada HIV. Secara umum, kekerasan kepada perempuan pada umumnya dan anak perempuan pada khususnya terus meningkat. Meskipun sangat memprihatikan, isi-isu ini membutuhkan para pembuat keputusan untuk menghadapi kenyataan yang dialami mereka dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi mereka.
Melihat kondisi yang telah dijabarkan rasanya masih banyak yang harus perlu dilakukan. Mengingat juga wilayah Indonesia yang sangat luas dan sumber daya yang masih sangat terbatas, strategi jitu terhdap pengobtrolan epidemiologi HIV AIDS baik pada perempuan maupun masyarakat pada umumnya masih perlu ditingkatkan dari masa ke masa. Dukungan dari masyarakat dan kelompok-kelompok sebaya juga sangat diperlukan untuk mengendalikan transmisi virus ini. Bagaimanapun kasus HIV AIDS di Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata. mari bahu membahu melawan virus HIV AIDS. Sekali lagi, jauhi virusnya, bukan musuhi orangnya!
Letakkanlah tanganmu diatas bahuku,
Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
Didepan sana cahya kecilpun memandu
Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya
Sumber
- Strategi Penanggulangan HIV dan AIDS 2007-2010 oleh Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia [link]
- Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Desember 2007 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
- Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Desember 2006 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
- Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Desember 2005 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
- Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Desember 2009 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
- Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Maret 2010 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
- Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Juni 2010 oleh Ditjen PPM & PL Depkes RI [link]
- Lecture Notes: HIV Control oleh dr. Satiti Retno P., Sp. KK (K)