Gunung Merapi telah menjadi topic hangat saat ini. Sejak meletus sejak 27 Oktober 2010 kemarin, media massa tak henti mengekspos hiruk pikuk aktivitas seputar Gunung Merapi.
Berbicara tentang bencana yang terjadi di merapi saat ini, pasti tak lepas dari masalah kesehatan para pengungsi merapi. Seperti halnya pengungsi di berbagai daerah bencana, pengungsi merapi juga dihadapkan pada peningkatan resiko terjangkitnya penyakit menular yang disebarkan oleh vektor. Vektor sendiri adalah hewan atau arthropoda yang dapat menyebarkan pathogen penyakit dari penderita satu ke penderita lain, baik melalui fungsi tubuh hewan tersebut maupun secara mekanik. Beberapa penyakit yang disebarkan melalui vektor antara lain adalah malaria, demam berdarah, tifus, dan pes. Beberapa vektor yang menjadi penyebab penyakit tersebut diantaranya adalah nyamu (culex, aedes egypti, anopheles betina), tikus, lalat, Sarcoptes scabiei, dll.
Memutus rantai penularan dengan membasmi vektor penyakit merupakan langkah yang efektif dalam mereduksi penyebaran suatu penyakit. Pada kamp-kamp pengungsian, para pengungsi memiliki resiko yang jauh lebih besar terjangkit penyakit menular tersebut. Hal tersebut dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya adalah penurunan system imun para pengungsi, peningkatan jumlah vektor, peningkatan jumlah tempat berkembang biak vektor, penurunan higienitas para penngungsi, serta gangguan pada program control vektor yang telah dijalankan sebelumnya.
Masalah penyakit menular, terutama yang disebarkan oleh vektor tentunya menjadi suatu hal yang memperburuk kondisi pasca bencana. Selain biaya perawatan kesehatan yang otomatis meningkat, penyebaran penyakit ini akan meningkatkan angka kematian para pengungsi di daerah bencana. Tentunya dengan penurunan / pembasmian jumlah vektor diharapkan kejadian penyakit menular di kamp pengungsian akan terus tereduksi.
Lalu bagaimanakah cara untuk menurunkan jumlah vektor tersebut? Kita mulai dengan planning dan mendesain program pengendalian vektor agar program yang nantinya terlaksana lebih efektif. Sebelumnya perlu dilakukan suatu assessment mengenai penyakit yang ditularkan oleh vektor di daerah yang akan dilaksanakan program tersebut. Penggunaan evidence based juga sangat diperlukan pada tahap ini. Selain itu perlu dipertimbangkan keberadaan sumber daya, baik manusia maupun peralatan/teknologi yang dapat digunakan dalam program. Perlu diketahui juga tentang aturan pemerintah setempat dan juga masalah kesehatan di daerah tersebut. Untuk daerah bencana, planning dilakukan dengan cepat dan fokus.
Asesmen pada penyakit menular karena vektor sebaiknya fokus pada penyakit yang ditularkan, vektor yang menyebabkan (jumlah, tempat berkembang biak, spesies, habitat, musim), kondisi lingkungann, status imun masyarakat setempat, tipe pathogen dan prevalensi di tempat tersebut serta adanya penyakit yang menjadi endemic ataupun epidemic. Sebagai catatan, program pengendalian vektor sangat erat hubunganya dengan sanitasi dan hygiene masyarakat, status nutrisi (perilaku, makanan), serta mutu pelayanan kesehatan setempat. Jadi dalam perancanganya, perlu dipikirkan juga ha-hal tersebut. Pada kondisi bencana, kondisi lingkungan dan ruang gerak para pengungsi yang berdesak-desakan memungkinkan vektor dapat berkembang dengan cepat dan penularan penyakit semakin cepat.
Dalam pelaksanaan pengendalian vektor, ada beberapa cara yang dapat diterapkan yakni:
- Biological Management; cara ini menggunakan makhluk hidup untuk menekan jumlah vektor. Contohnya adalah dengan menggunakan ikan untuk membasmi jentik nyamuk, bakteri (Bacillus thuringiensis israelensis)yang memproduksi toksin untuk mematikan larva.
- Mechanical Control; dimana menggunakan peralatan untuk memutus daur hidup ataupun menekan jumlah vektor. Contohnya adalah menggunakan tirai, dsb.
- Environmental Control; yakni mencegah perkembangbiakan vektor dan membasmi habitat vektor di lingkungan sehingga jumlah vektor dapat diturunkan, misalnya dengan menguras bak mandi dan mengubur barang bekas yang dapat digunakan sebagai tempat berkembangbiak.
- Chemical Control; yakni menggunakan bahan kimia untuk mengendalikan jumlah vektor, contohnya dengan obat nyamuk, pestisida, dsb.
Telah disebutkan bahwa tidak hanya vektor saja yang diperhatikan dalam pelaksanaan program pengendalian vektor. Masaah sanitasi dan hygienemisanya, menjadi momok utama di beberapa tempat di Indonesia. Pada kamp pengungsian hal ini akan menjadi semakin buruk. Masalah sanitasi dan hygiene ini dapat diatasi dengan penggunaan sumber air yang memadai, serta pengadaan sabun, dll. Suplementasi makanan yang bergizi juga perlu diperhatikan. Mengingat pengungsi kebanyakan makan seadanya tanpa diperhatikan kebutuhan gizinya, sehingga hal ini akan mempengaruhi system kekebalan tubuh dan akhirnya mudah tertular oleh penyakit yang disebarkan melalui vektor. Pelayanan kesehatan juga perlu diadakan di kamp-kamp pengungsian untuk menangani keluhan-keluhan kesehatan khususunya yang penyakit menular yang ditularkan vektor.
Hal yang tidak boleh dilupakan adalah evaluasi program pengendalian vektor, untuk mengetahui berhasil tidaknya ataupun efektivitas dari program yang telah dijalankan. Dalam pelaksanaanya, evaluasi dilakukan dengan melihat indikator-indokator yang ada mengenai masalah tersebut. Salah stau contoh adalah evaluasi program pengendalian malaria. JUmlah penyakit yang disebarkan oleh vektor (malaria) dan hitung parasit dalam darah merupakan contoh yang paling simpel untuk indikator evaluasi program ini. Setelah dilakukan evaluasi, barulah dilakukan tindak lanjut kemabli terhadap apa yang telah dilakukan. Dengan begitu program diharapkan akan lebih efektif dan terasa manfaatnya.
Kseimpulanya program pengendalian vektor tentunya perlu melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaanya. Masing-masing individu mempunyai peranan dalam hal ini. Dengan terjaganya system imun, status nutrisi, sanitasi dan hygiene yang baik, serta jumlah vektor yang terkendali akan menurunkan drastic angka penyakit yang ditularkan melalui vektor baik di pengungsian maupun di lingkungan kita semua.
Sumber:
Vektor Control In Disaster Area (Lecture Notes), dr. Tri Baskoro Tunggul S, MSc., PhD. Center of Tropical Medicine. Universitas Gadjah Mada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar