Minggu, 14 November 2010

Mengintegrasikan Pelayanan Kesehatan Mental di Pelayanan Kesehatan Primer



Berbicara tentang kesehatan mental masih menjadi pamali bagi masyarakat kita pada umumnya. Orang yang ‘sakit mental’ atau ‘sakit jiwa’ langsung saja dicap buruk oleh lingkunganya. Ditambah lagi dengan masyarakat kita yang masih mempercayai klenik-klenik dan pikiran tradisional lainya, orang yang sakit jiwa akan dikucilkan oleh masyarakat , bahkankeluarganya. Padahal sakit jiwa dan mental tidak hanya sebatas schizophrenia atau gangguan waham. Inilah yang masih menjadi ‘PR’ kita sebagai tenaga kesehatan!

Masalah kesehatan mental dan kepribadian masih mempunyai prevalensi yang cukup tinggi di lingkup global. Sebanyak 25% dari populasi global dipercaya menderita gangguan pada kesehatan mental dan kepribadian, dan 40% dari kelompok tersebut sayangnya mendapatkan diagnosis yang kurang tepat sehingga treatmen yang diberikan sia-sia. Data tersebut diperkuat dari data survey oleh WHO di 30 negara yang menunjukan bahwa 24% pasien yang mencari treatment ke dokter layanan primer/puskesmas menderita gangguan mental. Terlebih lagi 69% dari pasien yang mengeluhkan gangguan fisik tersebut tidak menunjukan adanya kelainan secara fisik.

Data lain dari WHO menyebutkan, beban hidup (Burden of Life) yang ditimbulkan oleh masalah gangguan mental, yang diukur dengan menggunakan parameter DALY (disability-adjusted life years) pada tahun 2000 12,3% lebih tinggi daripada angka beban hidup dari penyakit jantung iskemik, CVD dan tuberculosis. Berangkat dari data tersebut, merubah pola pikier masyarakat tentang kesehatan mental akan mempunyai efek pula pada efektivitas pelayanan di primer.

Tidak hanya menjadi masalah pada efektivitas pelayanan di pelayanan primer, masalah kesehatan mental ini juga akan berdampak pada kerugian yang berkelanjutan baik pada tingkat individu, keluarga, komunitas dan bahkan negara karena unproductivity, ketidakproduktifan dan ketergantungan pasien. Masalah juga akan tambah rumit karena masalah kesehatan mental akan berimbas pada kehidupan sosial seperti: putus kerja, kekerasan, pemerkosaan, HIV AIDS, pengangguran, bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak (child abuse), dll.

Kalau kita coba telusuri akar permasalahan ini, masalah kesehatan mental dicetuskan oleh dua hal utama. Pertama stigma masyarakat yang mempunyai stigma dan pandangan buruk terhadap gangguan mental mayor (waham, schizophrenia, psikotik). Kebanyakan masyarakat kita akan menjauhi, merasa segan terhadap para pasien yang mengalami gangguan mental mayor. Padahal sebenarnya dukungan moril dari lingkungan dan masyarakat sangat mempengaruhi proses pengobatan dan penyembuhan dari gangguan mental mayor tersebut. Stigma yang ada tak lepas dari kultur budaya kita yang sudah lama mengakar, seperti santet, karma, kesurupan ataupun klenik-klenik lainya.

Masalah kedua, yang tak kalah mayor nya, adalah masalah gangguan mental minor yang ada di masyarakat (seperti gangguan cemas, psikosomatis) justru tidak terlalu diperhatikan dan sering salah diagnosis, sehingga membuat gangguan ini berkepanjangan. Salah satu penyebabnya adalah para praktisi kesehatan/dokter terlalu berkonsentrasi pada keluhan fisik. Yang perlu kita ingat adalah tidak semua keluhan fisik diakibatkan oleh penyebab yang organic! Dan ujung dari masalah ini adalah treatmen yang inefektif.

Berangkat dari sekelumit permasalahan tersebut, pemerintah menciptakan suatu regulasi, suatu program : Mental Health Service Policy. Tujuan utamanya adalah merawat pasien yang memiliki gangguan mental pada pelayanan kesehatan primer. Tujuan spesifiknya diantaranya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan kesehatan mental di masyarakat, mengobati pasien dengan gangguan mental dengan kompetensi dokter umum dan jika memungkinkan merujuk sesegera mungkin. Bentuk dari program ini terintegrasi pada pelayanan – pelayanan di puskesmas di Indonesia. Sehingga diharapkan pelayanan yang menlingkupi masalah kesehatan mental akan sampai di daerah-daerah terpencil sekalipun di Indonesia.

Pada prakteknya regulasi tentang kesehatan mental tersebut tidak berjalan sesuai yang diinginkan, sehingga, sayang sekali, tujuan utamanya yang ditetapkan sebelumnya tidak tercapai. Hal yang menghambat pelaksanaan program ini adalah: kurangnya pemahaman masyarakat akan kesehatan mental, stigma masyarakat, pasien yang berada di daerah terpencil yang jauh dari pusat perawatan kesehatan mental (misal RSJ) sehingga membuat mereka malas karena memakan lebih banyak biaya dan waktu, serta desentralisasi yang membuat ragulasi pelayanan kesehatan antar daerah berbeda-beda.

Program pengintegrasian pelayanan kesehatan mental di pelayanan kesehatan primer (puskesmas) sebenarnya sudah mengikuti rekomendasi WHO untuk negara dengan sumber daya yang minim. Keuntungan dari program ini adalah: dapat diakses dengan mudah, dapat menjangkau larea yang lebih luas, dapat menurunkan stigma masyarakat tentang gangguan mental, serta deteksi yang lebih dini. Maka dari itu, program yang sudah ada perlu ditingkatkan performany antara lain dengan cara melanjutkan pelatihan dokter dan perawat di pelayanan kesehatan. Kolaborasi keduanya akan sangat membantu dalam proses pelaksanaan program. Pelatihan sebaiknya difokuskan kepada penaatalaksanaan gangguan fisik yang didasari latar belakang emosional (contohnya psikosomatis), yang seringkali disangkal oleh para dokter dan perawat di pelayanan primer selama ini.

Selain itu, pelatihan yang diberikan kepada dokter dan perawat (ataupun sumber daya di pelayanan primer lainya) dilakukan secara kolaboratif sesuai dengan kompetensi masing-maisng profesi. Materi yang diajarkan dapat meliputi deteksi awal untuk gangguan mental, perawatan primer/utama pada pasien gangguan mental, pemberian konsultasi tentang gangguan mental terhadap pasien, dan treatmen dengan psikotropika jika diperlukan. Program dapat ditunjang juga dengan mendatangkan ahli, seperti psikiatri, psikolog, ataupun mental health nurses yang datang secara regular (tidak harus tiap hari, tapi tiap beberapa minggu sekali) untuk meninjau dan mengevaluasi program yang telah ada. Gangguan mental mayor juga dapat dirujuk sesegera mungkin jika memungkinkan.

Dari penjelasan yang diuraikan secara panjang lebar diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa kesehatan mental dn psikososial masih menjadi masalah utama yang tidak patut dipandang sebelah mata karena membutuhkan perawatan dn pengobatan yang sesegera mungkin agar tidak menimbulkan imbas yang tidak diinginkan di masyarakat dan negara. Karena keterbatasan sumber daya (RSJ, ahli jiwa, psikolog, dokter, dll) di Indonesia, pelayanan kesehatan mental di Indonesia dilaksanakan dengan program yang terintegrasi di pelayanan primer di puskesmasyang harus terus dievaluasi dan ditingkatkan mutu dan proses pelaksanaanya.

Sumber:

Lecture Notes: Global and National Mental Health and Psychosocial Problems and Mental Health System (capacity building)

Jumat, 12 November 2010

Program Pengendalian Vektor di Tanah Bencana



Gunung Merapi telah menjadi topic hangat saat ini. Sejak meletus sejak 27 Oktober 2010 kemarin, media massa tak henti mengekspos hiruk pikuk aktivitas seputar Gunung Merapi.

Berbicara tentang bencana yang terjadi di merapi saat ini, pasti tak lepas dari masalah kesehatan para pengungsi merapi. Seperti halnya pengungsi di berbagai daerah bencana, pengungsi merapi juga dihadapkan pada peningkatan resiko terjangkitnya penyakit menular yang disebarkan oleh vektor. Vektor sendiri adalah hewan atau arthropoda yang dapat menyebarkan pathogen penyakit dari penderita satu ke penderita lain, baik melalui fungsi tubuh hewan tersebut maupun secara mekanik. Beberapa penyakit yang disebarkan melalui vektor antara lain adalah malaria, demam berdarah, tifus, dan pes. Beberapa vektor yang menjadi penyebab penyakit tersebut diantaranya adalah nyamu (culex, aedes egypti, anopheles betina), tikus, lalat, Sarcoptes scabiei, dll.

Memutus rantai penularan dengan membasmi vektor penyakit merupakan langkah yang efektif dalam mereduksi penyebaran suatu penyakit. Pada kamp-kamp pengungsian, para pengungsi memiliki resiko yang jauh lebih besar terjangkit penyakit menular tersebut. Hal tersebut dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya adalah penurunan system imun para pengungsi, peningkatan jumlah vektor, peningkatan jumlah tempat berkembang biak vektor, penurunan higienitas para penngungsi, serta gangguan pada program control vektor yang telah dijalankan sebelumnya.

Masalah penyakit menular, terutama yang disebarkan oleh vektor tentunya menjadi suatu hal yang memperburuk kondisi pasca bencana. Selain biaya perawatan kesehatan yang otomatis meningkat, penyebaran penyakit ini akan meningkatkan angka kematian para pengungsi di daerah bencana. Tentunya dengan penurunan / pembasmian jumlah vektor diharapkan kejadian penyakit menular di kamp pengungsian akan terus tereduksi.

Lalu bagaimanakah cara untuk menurunkan jumlah vektor tersebut? Kita mulai dengan planning dan mendesain program pengendalian vektor agar program yang nantinya terlaksana lebih efektif. Sebelumnya perlu dilakukan suatu assessment mengenai penyakit yang ditularkan oleh vektor di daerah yang akan dilaksanakan program tersebut. Penggunaan evidence based juga sangat diperlukan pada tahap ini. Selain itu perlu dipertimbangkan keberadaan sumber daya, baik manusia maupun peralatan/teknologi yang dapat digunakan dalam program. Perlu diketahui juga tentang aturan pemerintah setempat dan juga masalah kesehatan di daerah tersebut. Untuk daerah bencana, planning dilakukan dengan cepat dan fokus.

Asesmen pada penyakit menular karena vektor sebaiknya fokus pada penyakit yang ditularkan, vektor yang menyebabkan (jumlah, tempat berkembang biak, spesies, habitat, musim), kondisi lingkungann, status imun masyarakat setempat, tipe pathogen dan prevalensi di tempat tersebut serta adanya penyakit yang menjadi endemic ataupun epidemic. Sebagai catatan, program pengendalian vektor sangat erat hubunganya dengan sanitasi dan hygiene masyarakat, status nutrisi (perilaku, makanan), serta mutu pelayanan kesehatan setempat. Jadi dalam perancanganya, perlu dipikirkan juga ha-hal tersebut. Pada kondisi bencana, kondisi lingkungan dan ruang gerak para pengungsi yang berdesak-desakan memungkinkan vektor dapat berkembang dengan cepat dan penularan penyakit semakin cepat.

Dalam pelaksanaan pengendalian vektor, ada beberapa cara yang dapat diterapkan yakni:

  1. Biological Management; cara ini menggunakan makhluk hidup untuk menekan jumlah vektor. Contohnya adalah dengan menggunakan ikan untuk membasmi jentik nyamuk, bakteri (Bacillus thuringiensis israelensis)yang memproduksi toksin untuk mematikan larva.
  2. Mechanical Control; dimana menggunakan peralatan untuk memutus daur hidup ataupun menekan jumlah vektor. Contohnya adalah menggunakan tirai, dsb.
  3. Environmental Control; yakni mencegah perkembangbiakan vektor dan membasmi habitat vektor di lingkungan sehingga jumlah vektor dapat diturunkan, misalnya dengan menguras bak mandi dan mengubur barang bekas yang dapat digunakan sebagai tempat berkembangbiak.
  4. Chemical Control; yakni menggunakan bahan kimia untuk mengendalikan jumlah vektor, contohnya dengan obat nyamuk, pestisida, dsb.

Telah disebutkan bahwa tidak hanya vektor saja yang diperhatikan dalam pelaksanaan program pengendalian vektor. Masaah sanitasi dan hygienemisanya, menjadi momok utama di beberapa tempat di Indonesia. Pada kamp pengungsian hal ini akan menjadi semakin buruk. Masalah sanitasi dan hygiene ini dapat diatasi dengan penggunaan sumber air yang memadai, serta pengadaan sabun, dll. Suplementasi makanan yang bergizi juga perlu diperhatikan. Mengingat pengungsi kebanyakan makan seadanya tanpa diperhatikan kebutuhan gizinya, sehingga hal ini akan mempengaruhi system kekebalan tubuh dan akhirnya mudah tertular oleh penyakit yang disebarkan melalui vektor. Pelayanan kesehatan juga perlu diadakan di kamp-kamp pengungsian untuk menangani keluhan-keluhan kesehatan khususunya yang penyakit menular yang ditularkan vektor.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah evaluasi program pengendalian vektor, untuk mengetahui berhasil tidaknya ataupun efektivitas dari program yang telah dijalankan. Dalam pelaksanaanya, evaluasi dilakukan dengan melihat indikator-indokator yang ada mengenai masalah tersebut. Salah stau contoh adalah evaluasi program pengendalian malaria. JUmlah penyakit yang disebarkan oleh vektor (malaria) dan hitung parasit dalam darah merupakan contoh yang paling simpel untuk indikator evaluasi program ini. Setelah dilakukan evaluasi, barulah dilakukan tindak lanjut kemabli terhadap apa yang telah dilakukan. Dengan begitu program diharapkan akan lebih efektif dan terasa manfaatnya.

Kseimpulanya program pengendalian vektor tentunya perlu melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaanya. Masing-masing individu mempunyai peranan dalam hal ini. Dengan terjaganya system imun, status nutrisi, sanitasi dan hygiene yang baik, serta jumlah vektor yang terkendali akan menurunkan drastic angka penyakit yang ditularkan melalui vektor baik di pengungsian maupun di lingkungan kita semua.

Sumber:

Vektor Control In Disaster Area (Lecture Notes), dr. Tri Baskoro Tunggul S, MSc., PhD. Center of Tropical Medicine. Universitas Gadjah Mada.

Selasa, 02 November 2010

Cegah Infeksi Nosokomial Dengan Personal Hygiene

Dewasa ini infeksi nosokomial masih menjadi masalah krusial di Indonesia. Selain kerugianya yang memberatkan pasien, kerugian yang ditimbulkan oleh infeksi nosokomial juga berdampak pada rumah sakit dan masyarakat pada umumnya.

Terhadap pasien, infeksi nosokomial akan meningkatkan biaya perawatan, meeningkatkan lama perawatan dirumah sakit (length of stay), serta penyakit yang baru lebih parah daripada penyakit etika dia datang ke rumah sakit. Terjadinya infeksi nosokomial juga akan berimbas buruk kepada tingkat mutu pelayanankualitas rumah sakit, serta akan meningkatkan biaya operasional rumah sakit. Sedangkan bagi masyarakat tidak menutup keungkinan juga infeksi baru akan menyebar ke masyarakat luas.

Infeksi nosokomial sendiri adalah infeksi yang didapat selama penderita dirawat di rumah sakit (hospital-acquired infection) dengan catatan sebelumnya tidak ditemukan tanda – tanda klinis, tidak sedang dalam masa inkubasi, bukan merupakan sisa dari penyakt yang sebelumnya di derita, serta kuman penyebabnya dapat dibuktikan berasal dari rumah sakit. Infeksi nosokomial biasanya terjadi 3x 24 jam setelah penderita masuk rumah sakit.

Salah satu penyebab terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit adalah bakteri yang resisten terhadap antibiotika karena banyaknya penggunaan antibiotika yang irasional. Bakteri yang resisten ini tentunya jauh lebih sulit dihilangkan dan menyebabkan infeksi baru dan mungkin bisa lebih parah. Selain bakteri, virus dan jamur dapat pula berkontribusi dalam infeksi nosokomial ini. Sebelu ditemukan penisilin, kebanyakan penyebab infeksi nosokomial adalah bakteri golongan kokus gram positif seperti Streptococcus pyogenes dan Staphylococus aureus. Namun setelah banyak penggunaan penicillin, pola bergeser ke bakteri gram negative terutama golongan enteric seperi Klebsiella sp., pseudomonas sp., dan Escherechia coli. Pola bakteri penyebab ini berbeda-beda tiap rumah sakit. Hal yang mempengaruhi salah satunya adalah penggunaan antibiotic yang irasional. Terdapat kecenderungan peningkatan kejadian infeksi nosokomial dengan penggunaan antibiotika yang irasional.

Sebuah pathogen dapat menyebabkan infeksi nosokomial dapat melalui dua jalur, yakni endogenous infection maupun cross contamination. Pada infeksi endogen, bakteri berasal dari diri sendiri, terjadi self infection atau auto infection dimana agen kausatifnya berasal daru oasien dan infeksi terjadi ketika pasien berada dirumah sakit sebagai dampak dari penurunan ketahanan pasien. Sedangkan cross contamination yang diikuti dengan cross infection terjadi ketika pasien mendpaatkan agen infektif baru dan terjadi infeksi.

Bagaimanapun mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebisa mungkin kita lakukan pencegahan sebelum terjadi infeksi nosokomial. Prinsip utama dalam melakukan prevensi infeksi nosokomial adalah dengan menghilangkan segala sumber infeksi agar tidak terjadi penularan dan menghilangkan cara-cara transmisi dalam bentuk apapun. Tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan personal hygiene, clothing, penggunaan masker dan sarung tangan, pelaksanaan prosedur medis yang steril, membersihkan lingkungan rumah sakit, menjaga sterilitas peralatan rumah sakit, disinfeksi dan mencuci tangan.

Selain hal diatas, infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan penggunaan anibiotik yang rsional. Rasional disini berarti tepat regimen, tepat obat, tepat indikasi, serta waspada terhadap efek samping yang akan timbul. tentunya penggunaan antibiotik yang rasional akan menurunkan bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

Sebagai tombak dalam pelayanan kesehatan, tentunya kita akan sering kontak dengan sumber-sumber infeksi nosokomial. Berangkat dari itu, menjaga personal hygiene seperti mencuci tangan dan disinfeksi tangan adalah hal primer dalam pencegahan penyakit. Dengan mencuci tanan dengan air yang cukup dan sabun , lebih dari 90% flora transient di kulit akan hilang. Sabun antimicrobial juga aan menurunkan jumlah flora transient dlam beberapa menit.

Melihat realita saat ini, masih banyak di lingkungan kita tempat pelayanan kesehatan yang belum memperhatikan pentingnya personal hygiene dan bahkan kebersihan lingkungan dan tempat perawatan. Hal ini akan memicu terjadinya infeksi nosokomial baru yang pada ujungnya akan menurunkan kualitas pelayanan di tempat pelayanan tersebut. Sekali lagi pencegahan jauh lebih besar artinya dari pada pengobatan. Selain hemat waktu, juga menghemat lebih banyak biaya. Penting bagi para pekerja untuk memulai dari personal hygiene. Jika telah ada kesadaran dari maisng-masing individu, institusi pun akan mengikuti dengan lebih memperhatikan sterilitas dan kebersihan lingkungan pelayanan kesehatan. Jadi masih malaskan kita untuk mencuci tangan?

Senin, 01 November 2010

Merangkai Sistem Kesehatan

Meningkatkan taraf dan mutu kesehatan adalah tujuan utama dari suatu kesehatan, namun hal itu bukanlah satu-satunya yang diharapkan dari sebuah system kesehatan. Tujuan dari system kesehatan sendiri sebenarnya meliputi dua aspek, yakni tingkat pencapaian yang paling bagus (goodness) dan perbedaan yang sekecil mungkin diantara individu maupun kelompok (fairness). Goodness berarti system kesehatan mmemenuhi dengan baik apa yang masyarakat harapkan, sedangkan Fairness berarti kesamaan kepada setiap individu tanpa adanya diskriminasi.

Penting untuk mengetahui dan memahami arti system kesehatan, terutama bagi mereka yang berkecimpung di dunia kesehatan. WHO (2000) mendefinisikan sistem kesehatan sebagai suatu kesatuan yang melibatkan seluruh organisasi, institusi dan sumber daya yang bertujuan untuk melakukan gerakan kesehatan (health actions). Gerakan kesehatan sendiri mempunyai arti sebagai segala usaha, baik di tingkat perawatan kesehatan personal maupun pelayanan kesehatan masyarakat ataupun melalui inisiatif interseksional, yang mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan mutu dan taraf kesehatan.

Dari definisi yang cukup panjang tersebut, sistem kesehatan memiliki tiga objektif yang fundamental. Tujuan pertama adalah untuk meningkatkan kesehatan pada populasi/masyarakat yang mereka layani. Untuk menilai keberhasilan tujuan ini, WHO telah memilih untuk menggunakan disability-adjusted life expectancy (DALE). Alat ini berfungsi untuk menilai angka harapan hidup dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Tujuan kedua adalah memenuhi harapan/ekspektasi masyarakat. Tujuan ketiga adalahmemberikan perlindungan finansial bagi masyarakat dari biaya kesehatan yang tinggi.

Sebenarnya apa pentingnya mengetahui tujuan dan pengertian dari system kesehatan sendiri? Sebagai tenaga kesehatan/ sumber daya manusia yang tentunya sudah terlibat dalam system itu sendiri sehingga kita mau tidak mau mempunyai peran dalam mencapai tujuan yang akan dicapai oleh sistem itu. Pelayanan yang prima dari seorang dokter, dengan menghargai otonomi pasien, melakukan inform consent, memberikan pelayanan yang prima kepada pasien dan tidak membedakan antara pasien yang stau dengan yang lain maupun kelompok yang satu dengan yang lain adalah beberapa contoh hal yang mungkin bisa dilakukan oleh seorang dokter/ tenaga kesehatan lain.

Selain sumber daya manusia, ada komponen-komponen lain dalam sebuah system kesehatan yang mempunyai peran penting dalam pencapain tujuan awal system kesehatan. Komponen tersebut meliputi pemerintah dan institusi yang mempunyai peran sebagai regulator (stewardship), suatu system informasi kesehatan yang baik, pengaturan finansial kesehatan, dukungan produk dan teknologi medis, serta cara pelayanan yang masing-masing mempunyai peran yang tidak kalah penting.

Seperti system-sistem lain yang masing-masing komponenya berinteraksi dan saling mendukung satu sama lain, system kesehatan pun akan dengan mudah mencapai three main goals yang diharapkan. Besar harapan kita untuk membangun sebuah system yang efektif dan mampu meningkatkan kualitas mutu pelayanan serta taraf kesehatan di Indonesia. Keinginan yang kuat serta kerja keras kita semua tentu akan membawa kita semakin dekat ke harapan itu.

“When hope grows, miracles bloom”, nice quote from Elna Rae

Kamis, 21 Oktober 2010

Intro

Dilahirkan dengan nama Tuntas Rayinda dua puluh tahun silam membuat saya terpacu untuk selalu menuntaskan tugas dan amanah yang diberikan kepada saya. saat ini saya sedang menyelesaikan studi S1 di jurusan Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Jogjakarta.

Beberapa tahun lalu, tepatnya semasa SMA, saya sudah mengenal Blog dan menuliskan jurnal pribadi tentang kehidupan di masa-masa SMA. Setelah duduk di bangku kuliah, saya tidak pernah menulis lagi di dunia blogger hingga blog ini dibuat.

Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas untuk Blok 4.2: Health System and Disaster Management yang sedang saya jalani. Selanjutnya tulisan yang termuat dalam blog ini akan menjabarkan dan menceritakan tentang Sistem Kesehatan dan Managemen Bencana baik di Indonesia maupun luar negeri.

Pepatah lama mengatakan bahwa tak ada gading yang retak. Oleh karena itu kritik dan saran selalu diterima oleh penulis. Semoga tulisan saya di blog ini bermanfaat untuk pembaca pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

p.s: sisi lain saya dapat anda baca di sini